Melalui program Bima Sakti, pembinaan juga bergerak ke sektor ketahanan pangan dan keanekaragaman hayati. Warga binaan diperkenalkan dengan hidroponik, perikanan, serta budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).

Keterampilan itu memberi pengalaman yang berbeda. Warga binaan belajar menanam, merawat, memanen, sekaligus memahami bagaimana hasil budidaya dapat dipasarkan.

Yang menarik, program tersebut tidak berhenti setelah bantuan awal diberikan. Menurut Apudin, fasilitas yang semula terbatas kini berkembang.

Untuk hidroponik, misalnya, awalnya Lapas Indramayu hanya memiliki tiga meja tanam. Kini jumlahnya telah berkembang menjadi lebih dari tujuh meja.

Pada sektor perikanan, jumlah kolam juga bertambah. Dari semula tiga kolam, kini menjadi enam kolam.

Artinya, dalam perkembangan fasilitas yang disebut Apudin, jumlah meja hidroponik meningkat setidaknya lebih dari dua kali lipat, sementara jumlah kolam perikanan bertambah dua kali lipat.

Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kegiatan tidak berhenti sebagai proyek sesaat.

"Sekarang, alhamdulillah, kami sudah bisa menambah area. Untuk hidroponik, yang tadinya tiga meja, sekarang sudah menjadi lebih dari tujuh meja. Begitu juga dengan perikanan. Tadinya hanya ada tiga kolam, sekarang kami sudah memiliki sampai enam kolam," ujar Apudin.

Produksi pun masih berjalan. Hasil hidroponik, perikanan, dan maggot dipasarkan ke masyarakat luar. Lapas Indramayu juga telah menggandeng reseller mandiri untuk menerima hasil kegiatan ketahanan pangan tersebut.

Bahkan, menurut Apudin, permintaan dari luar mulai meningkat hingga pihak lapas kini justru membutuhkan tambahan lahan.

"Alhamdulillah, sangat berhasil. Sampai sekarang malah kami membutuhkan lahan untuk penambahan," katanya.

Ada gambaran sederhana yang ingin dibangun dari program tersebut: sesuatu yang semula tidak produktif dapat diubah menjadi sesuatu yang menghasilkan.

Harapan itu kini diarahkan pada pengembangan hidroponik, termasuk tanaman pakcoy, serta perikanan.

Apudin mengatakan pihaknya berharap lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat dimanfaatkan untuk memperluas kegiatan.

Di sisi lain, hasil dari kegiatan tersebut tidak hanya kembali menjadi pemasukan bagi program. Warga binaan yang terlibat juga memperoleh premi sesuai bidang pekerjaan mereka.

Pembinaan kemandirian di Lapas Indramayu mencakup sejumlah bidang, tim redaksi lain agribisnis, manufaktur, dan jasa. Untuk warga binaan yang bekerja di bidang agribisnis seperti hidroponik dan perikanan, premi diberikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, aktivitas kerja di dalam lapas memiliki dimensi yang lebih luas: belajar keterampilan, menghasilkan produk, mengenal proses kerja, sekaligus memperoleh imbalan atas pekerjaan yang dilakukan.

Bagi sebagian warga binaan, keterampilan yang dipelajari di dalam lapas juga dapat menjadi jembatan menuju kegiatan di luar.

Program Bima Sakti, menurut Apudin, sejalan dengan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE)Arumanis, program yang dikembangkan oleh Lapas Indramayu juga. Warga binaan yang telah memiliki pengalaman di bidang pertanian dan perikanan melalui Bima Sakti dapat dipersiapkan untuk bekerja di SAE Arumanis.

Dengan cara itu, keterampilan yang diperoleh di dalam lapas tidak berhenti ketika pintu lapas dibuka. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam lingkungan kerja yang lebih nyata.

Untuk mengikuti pembinaan kemandirian, pihak lapas melakukan screening berdasarkan keterampilan dan sumber daya manusia. Latar belakang masyarakat Indramayu yang banyak berkaitan dengan pertanian juga menjadi keuntungan tersendiri.