"Pemuda tidak cukup hanya menjadi penerima informasi, pengguna teknologi, atau pengikut perubahan. Pemuda perlu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan, menguji kebenaran, memahami persoalan secara mendalam, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat," sebut Puan.

Puan menilai tantangan anak muda saat ini bukan hanya memperoleh informasi, tetapi juga membedakan fakta dari manipulasi dan pengetahuan dari opini. Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah penyebaran hoaks dan disinformasi melalui penggunaan kecerdasan buatan (AI).

"AI ini luar biasa canggihnya tapi kita juga harus berhati-hati. Karena dengan hanya mengetik atau prompting di gadget lalu bisa sekejap menghasilkan konten-konten hoax, disinformasi. Di sini generasi muda harus berpikir kritis agar tidak termakan hoax," ungkapnya.

Dalam konteks tersebut, Puan menilai tema Konsultasi Nasional Pemuda Gereja, yakni 'Hiduplah Sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran', relevan dengan tantangan zaman.

"Terang harus memiliki daya untuk menerangi persoalan, membangkitkan kesadaran, menumbuhkan harapan, dan menggerakkan tindakan bersama," ungkap perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR itu.

Puan juga mengaitkan pesan tersebut dengan falsafah masyarakat Sulawesi Utara yang diwariskan Sam Ratulangi, yakni Si Tou Timou Tumou Tou.

"Yaitu Si Tou Timou Tumou Tou, bahwa manusia hidup untuk memanusiakan sesama manusia. Falsafah ini mengajarkan bahwa nilai kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil diraih untuk dirinya sendiri, tetapi juga oleh apa yang dapat diberikan bagi kehidupan sesamanya," terang Puan.

Ia turut mengingatkan pemikiran Bung Karno yang menempatkan rakyat sebagai pusat cita-cita kemerdekaan Indonesia.

"Bung Karno menegaskan bahwa kebangsaan dan demokrasi tidak boleh berhenti pada kemerdekaan politik, tetapi harus membawa kemerdekaan dalam kehidupan sosial dan ekonomi, sehingga rakyat dapat hidup lebih sejahtera dan bermartabat," jelas cucu Bung Karno tersebut.

Menurut Puan, pengabdian kepada sesama merupakan bagian dari perjuangan membangun bangsa. Karena itu, Konsultasi Nasional Pemuda Gereja diharapkan tidak hanya menjadi ruang bertukar pikiran dan menyusun program organisasi.

"Konsultasi Nasional Pemuda Gereja pada saat ini, tentu tidak hanya menjadi ruang untuk bertukar pikiran, memperkuat persaudaraan, dan menyusun program-program organisasi," tutur Puan.

Ia berharap forum tersebut menjadi momentum untuk mempertegas arah pengabdian pemuda gereja di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Jika Pemuda Gereja ingin menjadi terang, maka terang itu harus hadir di tengah kehidupan rakyat.Terang tidak hanya bersinar di dalam ruang-ruang pertemuan dan kegiatan organisasi, tetapi harus menjangkau tempat-tempat di mana masyarakat menghadapi kesulitan, ketidakpastian, dan ketidakadilan," urainya.

Puan pun mendorong agar program kerja pemuda gereja disusun berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.