Abbas menyatakan bahwa ancaman tersebut tidak lagi sekadar soal melemahkan solusi dua negara atau mencegah berdirinya negara Palestina, melainkan telah menjadi "ancaman eksistensial" terhadap keberadaan rakyat Palestina di tanah mereka sendiri.

Selain itu, dia juga menggambarkan perkembangan situasi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur sebagai bagian dari "rencana kolonial yang jahat" untuk membuat kehidupan semakin sulit bagi warga Palestina. Situasi tersebut mendorong mereka ke arah pengusiran paksa.

"Rakyat kami akan tetap berada di tanah mereka dan tidak akan menerima pengusiran," ujar Abbas, seraya menambahkan bahwa "pendudukan dan aktivitas permukiman bukanlah sebuah solusi."

Abbas menegaskan bahwa setiap masa transisi pada akhirnya harus berujung pada penyatuan kembali Gaza dan Tepi Barat yang diduduki di bawah satu negara Palestina dengan satu angkatan bersenjata yang sah.