Anne mengatakan data tersebut menunjukkan bahwa pergerakan batu bara membutuhkan dukungan logistik dari hulu hingga hilir dengan kapasitas yang mampu mengikuti kebutuhan industri.

“Karakter angkutan batu bara membutuhkan kepastian kapasitas dan keteraturan. Di koridor yang dilayani KAI, kereta api memiliki peran untuk membawa volume besar dalam satu rangkaian perjalanan dan menjaga aliran barang dari kawasan produksi menuju titik distribusi berikutnya,” kata Anne.

Pertumbuhan Muncul pada Sejumlah Pelanggan

Di tengah dinamika volume batu bara secara keseluruhan, sejumlah pelanggan angkutan KAI menunjukkan peningkatan sepanjang Januari–September 2026.

Volume angkutan PT Turba Bara Bany Enim meningkat dari 911.612 ton pada 2025 menjadi 2.347.582 ton pada 2026, atau tumbuh 157,5 persen.

Volume PT Mustika Indah Permai naik 32,7 persen, dari 2.721.149 ton menjadi 3.609.664 ton. Sementara volume PT Bukit Bara Alam bertambah sekitar 26 persen, dari 514.316 ton menjadi 647.986 ton.

Perkembangan tersebut menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan kapasitas pada sejumlah pelanggan dan koridor angkutan batu bara di Sumatra.