Secara keseluruhan, volume batu bara KAI hingga September 2026 tercatat 1,48 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 42.234.185 ton. KAI melihat pergerakan tersebut sebagai bagian dari dinamika kebutuhan pelanggan, produksi, serta kondisi industri.

“Kami melihat masing-masing pelanggan dan koridor memiliki dinamika yang berbeda. Karena itu, pengelolaan kapasitas dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kebutuhan pelanggan, kesiapan sarana dan prasarana, serta keselamatan perjalanan,” ujar Anne.

Rel untuk Arus Komoditas Berskala Besar

Data BPS juga menunjukkan bahwa ekspor Indonesia secara keseluruhan sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar, meningkat 4,43 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas mencapai US$160,01 miliar atau tumbuh 5,21 persen.

Dalam ekosistem tersebut, ketersediaan jaringan logistik menjadi bagian penting dalam menghubungkan kawasan produksi dengan pusat distribusi dan jalur perdagangan berikutnya.

KAI terus mengelola kapasitas lintas, sarana, prasarana, terminal, serta pola operasi angkutan barang untuk melayani kebutuhan industri dengan tetap menjaga keselamatan perjalanan kereta api.

“Angkutan barang berbasis rel memiliki ruang yang besar untuk terus dikembangkan, terutama pada komoditas dengan volume tinggi dan pola pengiriman yang rutin. KAI akan terus menyesuaikan layanan dengan kebutuhan industri agar kereta api semakin relevan dalam sistem logistik Indonesia,” tutup Anne.