Munculnya pelanggan baru menunjukkan bahwa pasar koleksi fisik tidak hanya bergantung pada kolektor lama. Menurut pengalaman Andrash, anak muda yang baru mulai mengoleksi piringan hitam kerap datang untuk meminta saran mengenai cara memulai koleksi mereka.
Salah seorang pengunjung, Raka Pratama (27), mengatakan dirinya masih tertarik membeli rilisan fisik meskipun kini musik mudah diakses melalui layanan streaming. "Kalau streaming memang lebih praktis, tapi saya tetap suka beli CD karena ada rasa puas ketika punya bentuk fisiknya. Bisa melihat cover, artwork, booklet-nya. Kalau albumnya memang saya suka, rasanya kurang lengkap kalau hanya mendengarkan lewat streaming," ujar karyawan swasta tersebut.
Salah satu pertanyaan yang sering Andrash terima adalah apakah calon kolektor sebaiknya membeli piringan hitam terlebih dahulu atau perangkat pemutarnya. Andrash menyarankan mereka membeli rilisan yang diinginkan terlebih dahulu, terutama karena piringan hitam yang stoknya sudah habis di pasaran harganya bisa menjadi lebih mahal.
Andrash juga menyarankan calon kolektor untuk memulai dari musik yang mereka sukai, setelah itu mengeksplorasi musik lainnya. "Pilih musik yang mereka suka dan selanjutnya baru ngulik-ngulik musik yang baru," ujarnya.
Bagi Andrash, keberadaan layanan musik digital juga tidak menjadi hambatan besar bagi bisnis rilisan fisik. Menurutnya, pasar untuk format fisik masih cukup besar sehingga perkembangan musik digital tidak terlalu memengaruhi bisnisnya. "Ada sih, tapi enggak terlalu gimana-gimana ya, karena masih banyak peminat rilisan fisik juga," kata Andrash.