"Terapi berbasis tirzepatide bekerja melalui dua jalur hormon incretin, yaitu GLP-1 dan GIP yang bisa bertahan lebih lama kadar di tubuh. Keduanya berperan dalam mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, sehingga pada pasien yang sesuai, terapi ini dapat membantu mengurangi rasa lapar, meningkatkan kontrol terhadap asupan makanan, dan mengurangi dorongan atau pikiran berlebihan terhadap makanan yang sering disebut sebagai food noise," imbuhnya.

dr. Guadelupe kemudian menambahkan terapi injeksi hanyalah satu bagian dari perjalanan, terapi terbaik tidak berhenti pada injeksi saja. Keberhasilan jangka panjang tetap memerlukan pendekatan yang komprehensif dan pengaturan pola makan yang dipersonalisasi agar hasil yang dicapai dapat dipertahankan.

Terapi TirzePen dan TirzeSlim ini pun mampu mengendalikan Food Noise, yaitu kondisi ketika pikiran terus-menerus dipenuhi dorongan atau keinginan terhadap makanan, meskipun tubuh sebenarnya tidak membutuhkan asupan. Keadaan yang jarang disadari sebagai pengaruh dari imbalance metabolic oleh sebagian besar orang yang membantu dalam perjalanan perubahan gaya hidup dan pola makan.

Sementara itu, Psikolog LIGHThouse, Tara de Thouars, menjelaskan bahwa food noise sering kali disalahartikan sebagai kurangnya kemauan atau disiplin dalam menjalani diet. Padahal, kondisi tersebut dari sisi psikologis juga memiliki keterkaitan yang kompleks dengan faktor biologis, emosional, kebiasaan, hingga lingkungan sehari-hari.

"Pola pikir membentuk bagaimana seseorang bersikap dan membuat pilihan. Pola pikir dan hubungan dengan makanan yang tidak tepat dapat mempengaruhi pola makan yang juga tidak tepat. Pendekatan psikologis dibutuhkan untuk mengatasi pikiran, dorongan makan serta akar masalah makan yang tidak tepat." jelas Tara.