"Kami ingin batik Banyuwangi tidak hanya lestari sebagai identitas budaya, tetapi juga menjadi produk unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan pembatik dan menggerakkan ekonomi masyarakat," ujarnya.

Di panggung BBF 2026, beragam rancangan busana ditampilkan, mulai dari gaun malam, busana kontemporer siap pakai, hingga pakaian formal. Kreativitas para desainer memperlihatkan bahwa motif tradisional Banyuwangi dapat diolah menjadi produk fashion modern tanpa meninggalkan karakter aslinya.

Dampak penyelenggaraan BBF terhadap perkembangan industri batik lokal dirasakan langsung oleh Firman Syauqi dari Godho Batik. Ia merupakan salah satu pelaku UMKM yang telah mengikuti perjalanan BBF sejak pertama kali digelar pada 2013.

Menurut Firman, ajang tahunan ini menjadi salah satu pintu bagi produk batik lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Saat ini, usahanya mampu menjual hingga 750 kain batik setiap bulan dengan harga berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 5 juta per kain.

"Festival ini memberikan ruang promosi yang sangat berarti bagi perajin lokal," ungkap Firman.

Firman menambahkan, perkembangan industri batik Banyuwangi juga sangat didukung ekosistem yang dibangun secara berkelanjutan.