"Sejak BBF pertama kali digelar, jumlah pembatik lokal terus bertambah. Jika dulu pembatik lokal bisa dihitung jari, kini lebih dari 60 pembatik telah terdaftar dalam asosiasi," katanya.

Regenerasi pembatik juga mulai tumbuh melalui jalur pendidikan seperti yang dilakukan Fiki Dwi Cahyono dari Serupa Batik sekaligus guru di SMKN 2 Tegalsari. Sekolah tersebut memiliki jurusan khusus agar lulusannya memiliki bekal keterampilan untuk terjun ke industri batik.

"Pembatik di Serupa Batik sebagian besar merupakan alumni SMKN 2 Tegalsari. Mereka bisa memperdalam ilmu yang didapat di sekolah. Setelah memiliki pengalaman cukup, sebagian kemudian mengembangkan usaha batiknya sendiri," jelas Fiki.

Sementara itu, Dani Rusdian dari Batikan mengaku tertarik menekuni industri batik sejak 2021 karena melihat besarnya peluang pasar. Menurutnya, dukungan pemerintah daerah dan masyarakat turut memberikan ruang bagi tumbuhnya pelaku usaha baru.

Selama 14 tahun penyelenggaraan, BBF konsisten mengangkat beragam motif khas seperti Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, hingga Wader Kesit. Kolaborasi Pemkab Banyuwangi dan OJK Jember pada perhelatan yang ditutup apik oleh musisi Hanin Dhiya ini diharapkan semakin memperkuat industri kreatif berbasis potensi lokal secara berkelanjutan.