NADIKABAR.COM — Pemkab Banyuwangi terus mendorong pelestarian batik lokal sekaligus memperkuat industri batik sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif daerah. Salah satunya dilakukan melalui ajang Banyuwangi Batik Festival atau BBF yang tahun ini mendapat dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Festival yang memasuki tahun ke-14 ini menampilkan puluhan busana hasil kreativitas dari 16 pembatik lokal. Beragam rancangan busana modern ditampilkan guna memperkenalkan kekayaan motif batik Banyuwangi kepada masyarakat luas.
Tahun ini, Sabuk Mangir Latar Ukel dipilih untuk mengangkat kembali kekayaan filosofi lokal. Motif ini memadukan garis tegas Sabuk Mangir dengan liukan lembut Latar Ukel yang merepresentasikan keseimbangan nilai kehidupan, perlindungan, dan keanggunan budaya masyarakat Using.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani mengatakan bahwa BBF bukan sekadar panggung peragaan busana. Acara yang digelar Sabtu (7/11) ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan menjaga warisan batik Banyuwangi agar tetap hidup dan berkembang mengikuti zaman.
"Melalui festival ini, kita ingin motif-motif batik Banyuwangi terus dikenal, diwariskan, dan dikembangkan. Batik bukan hanya warisan budaya yang harus kita jaga, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat," kata Ipuk dalam keterangan tertulisnya, Minggu (8/11/2026).
Menurut Ipuk, pelestarian batik harus berjalan beriringan dengan upaya penguatan industrinya. Karena itu, Pemkab terus mendorong penggunaan batik lokal di lingkungan sekolah dan instansi serta membuka ruang promosi bagi para perajin.
"Kami ingin batik Banyuwangi tidak hanya lestari sebagai identitas budaya, tetapi juga menjadi produk unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan pembatik dan menggerakkan ekonomi masyarakat," ujarnya.
Di panggung BBF 2026, beragam rancangan busana ditampilkan, mulai dari gaun malam, busana kontemporer siap pakai, hingga pakaian formal. Kreativitas para desainer memperlihatkan bahwa motif tradisional Banyuwangi dapat diolah menjadi produk fashion modern tanpa meninggalkan karakter aslinya.
Dampak penyelenggaraan BBF terhadap perkembangan industri batik lokal dirasakan langsung oleh Firman Syauqi dari Godho Batik. Ia merupakan salah satu pelaku UMKM yang telah mengikuti perjalanan BBF sejak pertama kali digelar pada 2013.
Menurut Firman, ajang tahunan ini menjadi salah satu pintu bagi produk batik lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Saat ini, usahanya mampu menjual hingga 750 kain batik setiap bulan dengan harga berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 5 juta per kain.
"Festival ini memberikan ruang promosi yang sangat berarti bagi perajin lokal," ungkap Firman.
Firman menambahkan, perkembangan industri batik Banyuwangi juga sangat didukung ekosistem yang dibangun secara berkelanjutan.
"Sejak BBF pertama kali digelar, jumlah pembatik lokal terus bertambah. Jika dulu pembatik lokal bisa dihitung jari, kini lebih dari 60 pembatik telah terdaftar dalam asosiasi," katanya.
Regenerasi pembatik juga mulai tumbuh melalui jalur pendidikan seperti yang dilakukan Fiki Dwi Cahyono dari Serupa Batik sekaligus guru di SMKN 2 Tegalsari. Sekolah tersebut memiliki jurusan khusus agar lulusannya memiliki bekal keterampilan untuk terjun ke industri batik.
"Pembatik di Serupa Batik sebagian besar merupakan alumni SMKN 2 Tegalsari. Mereka bisa memperdalam ilmu yang didapat di sekolah. Setelah memiliki pengalaman cukup, sebagian kemudian mengembangkan usaha batiknya sendiri," jelas Fiki.
Sementara itu, Dani Rusdian dari Batikan mengaku tertarik menekuni industri batik sejak 2021 karena melihat besarnya peluang pasar. Menurutnya, dukungan pemerintah daerah dan masyarakat turut memberikan ruang bagi tumbuhnya pelaku usaha baru.
Selama 14 tahun penyelenggaraan, BBF konsisten mengangkat beragam motif khas seperti Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, hingga Wader Kesit. Kolaborasi Pemkab Banyuwangi dan OJK Jember pada perhelatan yang ditutup apik oleh musisi Hanin Dhiya ini diharapkan semakin memperkuat industri kreatif berbasis potensi lokal secara berkelanjutan.