"Kita belum pernah kenal sebelumnya. Kalau Mas David (pengusaha sound horeg lainnya) pernah bertemu saya dari awal tahun kemarin. Beliau (David) sound horeg bersedia untuk memperbaiki, beliau anak buahnya kenal baik dengan Gus Iqdam, jadi masih ada santrinya lah," jelasnya.
"Yang Pak Budi ini, kami tidak pernah kenal, ternyata beliau salah satu pengusaha. Ya mungkin saya nggak tahu latar belakangnya bagaimana, tiba-tiba menganggap kami goblok," tambahnya.
Meski demikian, Kiai Ma'ruf menegaskan tidak ingin membalas perkataan tersebut dengan kemarahan. Ia mengibaratkan posisi MUI Jatim dalam persoalan sound horeg seperti hubungan tim redaksi dokter dan pasien.
Menurut Kiai Ma'ruf, seorang dokter tetap harus memberikan nasihat kepada pasien meskipun nasihat tersebut tidak selalu diterima dengan baik. Ia menggunakan contoh dokter yang meminta seseorang berhenti merokok.
"Ketika menghadapi hal yang semacam itu, sama seperti dengan dokter. Ada dokter jantung menasehati orang jangan merokok. Nah, orang yang merokok itu dia menikmati rokoknya, dia akan mencaci maki terhadap dokter. Tapi dokternya nggak boleh marah. Suatu saat bertemu dengan orang tadi, tetap dokternya harus mengobati," jelas Kiai Ma'ruf.