Ia mengatakan sikap serupa juga ingin diterapkannya dalam menghadapi polemik sound horeg. Menurutnya, tugas MUI adalah menyampaikan pandangan keagamaan, bukan membalas cacian.
"'Nah, saya berada di situasi seperti itu. Saya berada di situasi nggak boleh membalas kemarahan, tidak boleh membalas caciannya. Cuma kita perlu memberitahu, sama dengan dokter kalau merokok, bahayanya ini. Saya juga begitu, ini secara agama, begini, begini, begini," tambahnya.
Kiai Ma'ruf mengatakan MUI Jatim tidak mengambil langkah berupa hukuman atau punishment. Menurutnya, fatwa menjadi jalan tengah dalam menyikapi persoalan tersebut.
"Banyak yang berbenah, banyak, ini kalau di Jawa Timur pakai Sunan Kalijaga, ya nggak mempan. Ibarat orang sakit, ini obat dosisnya perlu lebih tinggi. Tapi kita tidak menggunakan cara yang ketiga, yakni punishment atau hukuman, kita nggak pakai itu. Jadi sebenarnya kita masih tengah, kita masih tengah. Tapi bagi teman-teman yang di Jawa Tengah mungkin mereka mendengar kata "haram" itu sudah (emosi), sampai digituin lah. Tapi bagi saya, kalau (kata goblok) ditujukan ke saya pribadi, nggak masalah. Kita ini terus belajar kok, tiap hari kan kita belajar," bebernya.
Kiai Ma'ruf menegaskan dirinya tidak mempermasalahkan apabila perkataan tersebut ditujukan kepada dirinya secara pribadi. Namun, ia menilai penyebutan "goblok" terhadap institusi MUI Jatim merupakan hal yang berbeda.