NADIKABAR.COM — Otoritas China menanggapi komentar terbaru yang disampaikan oleh Sekretaris Pers baru Gedung Putih, Katie Zacharia, yang mengkritik toilet di Negeri Tirai Bambu itu "tidak layak". Zacharia yang belum seminggu menjadi juru bicara untuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ini, pernah tinggal di China.

Kementerian Luar Negeri China, seperti dilansir AFP, Jumat (16/10/2026), memberikan tanggapan santai, dengan menyarankan Zacharia untuk lebih sering berkunjung ke China.

"Kami menyambut baik jika dia bisa lebih sering berkunjung ke China saat memiliki kesempatan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, sembari menahan senyum, saat berbicara kepada wartawan dalam konferensi pers harian di Beijing.

Kontroversi menyelimuti Zacharia meskipun dia baru beberapa hari menjabat sebagai Sekretaris Pers Gedung Putih. Wanita berusia 41 tahun ini, menggantikan Karoline Leavitt yang mengundurkan diri pada Agustus lalu untuk mengurus anak-anaknya yang masih kecil.

Dalam konferensi pers pertamanya di Gedung Putih pada Selasa (13/10) waktu setempat, Zacharia hanya menjawab pertanyaan dari tiga jurnalis saja. Konferensi pers itu juga berlangsung sangat singkat, tidak seperti biasanya.

Debutnya sebagai jubir Trump memicu keraguan korps pers Gedung Putih, karena dia tampak tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dan sempat keliru menyebut suaminya sebagai presiden.

Zacharia juga menjadi sorotan terkait kualifikasi legal yang diklaim oleh dirinya. Dia menyebut dirinya sebagai pengacara, namun ternyata dia tidak lulus ujian profesi advokat -- prasyarat yang diperlukan untuk bisa melakukan praktik hukum di AS.

Dia mencantumkan posisinya sebagai penasihat hukum di sebuah organisasi nirlaba konservatif di California, dan mengakui pernah bekerja di sebuah firma hukum di Beijing.

Komentar Zacharia mengkritik toilet di China itu dilontarkan saat dia melakukan wawancara dengan influencer sayap kanan ternama AS, Jack Posobiec, yang disiarkan pada Kamis (15/10) waktu setempat.

Dalam wawancara itu, Zacharia yang pernah tinggal di China ini menceritakan kembali persepsi yang berkembang pada tahun 2016 lalu, soal China diprediksi segera melampaui AS.

"Kami semua diberitahu bahwa Hillary (Clinton) akan menang. Masa keemasan atau masa kejayaan Amerika dianggap telah berakhir. Bahwa China digadang-gadang akan berjaya," kata Zacharia dalam wawancara itu.

"Saya ingat betul saat itu, karena baru saja kembali dari China, saya berpikir, 'Bagaimana mungkin China menjadi negara berikutnya yang akan berjaya?' Mereka bahkan tidak memiliki toilet yang layak," ucapnya.

Komentar Zacharia itu menjadi sorotan setelah Trump baru-baru ini membanggakan "hubungan yang sangat baik" dengan Presiden China Xi Jinping.

Dalam pertemuan puncak di Washington DC pada September lalu, Trump dan Xi membahas berbagai topik, mulai dari kecerdasan buatan (AI) dan perdagangan hingga konflik Iran yang menemui jalan buntu, serta mengonfirmasi bahwa mereka akan kembali bertatap muka pada tahun ini.