Dino mengatakan bahwa hal ini patut diwaspadai oleh civil society yang menurutnya merupakan salah satu bentuk intimidasi terhadap kebebasan berbicara di Indonesia.
"Suatu teknik di mana suatu tim ya yang tidak diketahui wujudnya, anggotanya, saya katakan tim siluman, mereka membuat berita-berita yang fiktif gitu ya, posting di berbagai akun yang mereka buat sendiri. Jadi seakan-akan ini adalah murni dari bawah, tapi tidak ya. Ini adalah aksi yang terkoordinir, terorganisir, dan ada ininya, ada backing-nya gitu ya, karena tidak mungkin mereka melakukan ini karena iseng gitu ya," ujarnya.
Ia pun mengatakan akan membawa isu ini ke Menkomdigi Meutya Hafid. Menurutnya, latar belakang Meutya yang pernah berprofesi sebagai wartawan akan paham mengenai ini.
Dino Patti menyebut Meutya seharusnya paham betul akan pentingnya perlindungan mengenai kebebasan berbicara untuk melindungi masyarakat dari praktik intimidasi dan pengaburan fakta oleh tim siluman seperti ini.
Dino mengatakan jika memang tujuan berita fiktif ini adalah untuk menyudutkannya dan memberi kesan bahwa ia tidak nasionalis, ia pun membantah. Dino menyebut selama 28 tahun ia mengabdi kepada Republik Indonesia.
"Dan telah menerima dua Bintang Mahaputra, salah satunya dari Presiden Prabowo, dan satu bintang jasa utama. Jadi ada tiga bintang dari negara atas pengabdian saya. Dan saya juga datang dari suatu keluarga-ayah saya memperjuangkan dan mendedikasikan hidupnya untuk menasionalisasi laut, seluruh laut yang ada di sekitar kepulauan Indonesia," ucap dia.
Pada saat yang sama, Dino juga menyebut bahwa belum pernah bertemu dengan Saiful Mujani. Ia mengatakan hanya mengetahui Saiful sebagai pentolan surveo di Indonesia.