"Ketika manusia 'dibunuh' secara massal atas nama nasionalisme, hegemoni, atau keamanan; hal itu justru dianggap sebagai sesuatu yang normal, seolah bukan persoalan besar, sehingga perlahan membuat nurani kita mati rasa," katanya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menunjukkan perlunya perubahan arah dalam hubungan internasional dengan menempatkan pembangunan, keadilan, dan nilai kemanusiaan sebagai prioritas.

"Kita perlu melakukan perubahan arah secara drastis dalam urusan dunia. Kita perlu menempatkan kembali pembangunan sebagai pusat perhatian, memulihkan keadilan, dan mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai inti dari hubungan internasional," katanya.

Dia menekankan masyarakat dunia menginginkan kehidupan yang damai, penuh penghormatan, memiliki harapan, serta kesempatan setara.

Dino menilai masyarakat sipil memiliki peran penting dalam memperluas ruang dialog di tengah menyempitnya komunikasi antar-pemerintah maupun di dalam negara.