Cadangan hasil penyerapan itu dipersiapkan sebagai langkah antisipasi menghadapi berbagai ketidakpastian, termasuk dampak El Nino dan perkembangan situasi geopolitik yang mempengaruhi perdagangan pangan global.
Memasuki November, lanjut Rizal, kemampuan penyerapan harian memang menurun dibandingkan masa panen raya karena produksi gabah petani ikut berkurang seiring perubahan musim dan kondisi iklim.
Meski demikian, Bulog memastikan penyerapan hasil panen petani tetap berlangsung setiap hari agar gabah yang tersedia di lapangan tetap memperoleh kepastian pasar.
"Sekarang pada bulan November sekira 4.000 ton per hari setara beras, kalau gabahnya 8.000 ton. Yang biasanya kami pada awal tahun bisa 20 ribu ton, bahkan bisa sampai 60 ribu ton setara beras per harinya," jelasnya.
Rizal menegaskan kegiatan penyerapan tidak berhenti meskipun target awal telah tercapai sebanyak 4 juta ton setara beras, karena pemerintah tetap mengutamakan perlindungan terhadap petani dan stabilitas pasokan beras.
Bulog akan melanjutkan penyerapan hingga akhir tahun sesuai arahan pemerintah, kemudian meneruskannya pada awal tahun berikutnya tanpa menghentikan aktivitas pembelian gabah petani.