NADIKABAR.COM — Di tengah euforia investasi pada kecerdasan buatan (AI), data center, dan fintech, ada satu sektor yang relatif luput dari perhatian investor Indonesia, yakni disability technology atau disability tech.

Padahal, di balik citranya yang sering dianggap sebagai isu sosial dan filantropi, sektor ini sedang tumbuh menjadi industri bernilai miliaran dolar yang menggabungkan inovasi teknologi, dampak sosial, dan peluang bisnis dalam satu ekosistem yang sangat menjanjikan.

Selama ini, banyak orang melihat teknologi bagi penyandang disabilitas sebagai alat bantu yang identik dengan kursi roda, tongkat, atau alat bantu dengar. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi sudah jauh tertinggal dari perkembangan yang terjadi saat ini. Revolusi digital dan kemajuan AI telah mengubah wajah disability tech menjadi salah satu area inovasi paling dinamis di dunia.

Perubahan tersebut terjadi pada saat kebutuhan global terhadap teknologi bantu terus meningkat.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 1,3 miliar orang atau hampir 16 persen populasi dunia hidup dengan berbagai bentuk disabilitas signifikan. Artinya, satu dari enam penduduk dunia berpotensi menjadi pengguna teknologi aksesibilitas. Bahkan, WHO memperkirakan lebih dari 2,5 miliar orang membutuhkan teknologi bantu saat ini, dan jumlah tersebut dapat meningkat menjadi 3,5 miliar orang pada 2050 seiring bertambahnya populasi lansia dan meningkatnya prevalensi penyakit kronis.