Peran AI dalam disability tech semakin terlihat melalui kisah sukses Be My Eyes, startup asal Denmark yang memanfaatkan teknologi GPT untuk membantu penyandang tunanetra memahami lingkungan sekitar mereka. Melalui kamera ponsel, pengguna dapat memperoleh penjelasan detail mengenai objek, ruang, dokumen, atau aktivitas yang berada di hadapan mereka.

Hal yang menarik, AI tidak hanya menjelaskan apa yang terlihat, tetapi juga memberikan konteks, rekomendasi, dan bantuan navigasi secara real time. Inovasi seperti ini menunjukkan bahwa AI tidak sekadar menggantikan pekerjaan manusia, tetapi juga menciptakan peluang baru bagi kelompok yang selama ini menghadapi hambatan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tingkat global, investor mulai melihat disability tech sebagai pasar masa depan. Berbagai laporan industri pada 2025 menunjukkan nilai pasar perangkat dan teknologi disabilitas telah melampaui puluhan miliar dolar AS dan terus bertumbuh setiap tahun.

Pendorongnya tidak hanya faktor teknologi, tetapi juga perubahan struktur demografi dunia. Banyak negara kini memasuki era aging society, ketika proporsi penduduk lanjut usia meningkat secara signifikan. Kondisi ini secara otomatis memperbesar kebutuhan terhadap berbagai teknologi bantu yang mendukung mobilitas, komunikasi, kesehatan, dan aktivitas sehari-hari.