NADIKABAR.COM — Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta melakukan pemeriksaan psikologis siswa yang terdampak maupun terlibat kasus dugaan pelecehan seksual di SMP Negeri di Jakarta Timur (Jaktim) lewat penyalahgunaan foto oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
"Sebagai bagian dari proses penanganan, dilakukan asesmen psikologi sosial terhadap peserta didik yang terdampak maupun peserta didik yang terlibat," kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Asesmen tersebut dilakukan oleh tim dari Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta.
Menurut Nahdiana, asesmen diperlukan untuk mengetahui kondisi psikologis setiap peserta didik sekaligus mengidentifikasi kebutuhan pendampingan yang diperlukan selama proses penanganan kasus.
"Sebagai bagian dari proses penanganan, dilakukan asesmen psikologi sosial terhadap peserta didik yang terdampak maupun peserta didik yang terlibat," ujarnya.
Selain itu, pihak sekolah bersama Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Timur dan unsur terkait telah melakukan pertemuan dengan orang tua peserta didik yang terlibat maupun yang terdampak.
Pertemuan tersebut dilaksanakan pada Selasa (22/9) sebagai bagian dari proses penanganan kasus yang melibatkan peserta didik di lingkungan sekolah tersebut.
"Perlindungan dan pemulihan peserta didik menjadi prioritas dalam penanganan kasus ini. Oleh karena itu, setiap langkah yang diambil perlu mempertimbangkan kondisi psikologis anak dan prinsip perlindungan anak," kata Nahdiana.
Sebelumnya, seorang siswa SMP Negeri di Jakarta Timur (Jaktim) diduga menjadi korban penganiayaan setelah teman-temannya mengetahui dirinya mengedit foto sejumlah siswi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), sehingga menjadi foto vulgar.
"Terduga pelaku yang membuat atau mengedit foto rekan-rekannya, membuat laporan penganiayaan," kata Kepala Seksi Humas Polres Metro Jakarta Timur AKP I Made Budi saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (24/9).
Berdasarkan keterangan orang tua korban, dugaan penganiayaan terjadi pada Selasa (15/9) hingga Rabu (16/9) 2026 sekitar pukul 11.00 WIB atau setelah korban pulang sekolah.
Polisi juga masih mendalami keseluruhan rangkaian kejadian, termasuk mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga melakukan penganiayaan terhadap siswa tersebut.