Menurut Siska, faktor yang memengaruhi keselamatan ibu dan bayi juga tidak seluruhnya berada di dalam fasilitas pelayanan kesehatan. Perencanaan kehamilan, usia dan kondisi kesehatan ibu, jarak kehamilan, pengetahuan keluarga, hingga kemampuan mengenali tanda bahaya turut menentukan.
"Faktor kesehatan memang sangat penting, namun terdapat pula faktor yang berada di luar fasilitas pelayanan kesehatan, seperti perencanaan kehamilan, usia dan kondisi kesehatan ibu, jarak kehamilan, pengetahuan keluarga, keterlambatan mengenali tanda bahaya, keterlambatan mengambil keputusan, akses terhadap pelayanan, serta dukungan suami dan keluarga," katanya.
Oleh karena itu, DP3AKB Jabar mengaku akan memperkuat perannya dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi. Langkah tersebut dilakukan melalui program keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pembangunan ketahanan keluarga, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan lini lapangan.
Salah satu fokusnya adalah mendorong kehamilan yang direncanakan dan sehat. Pemprov Jabar akan memperkuat akses dan kualitas konseling serta pelayanan KB agar pasangan dapat merencanakan jumlah dan jarak kelahiran sesuai kondisi kesehatan dan kebutuhan keluarga.
Edukasi mengenai kehamilan berisiko juga akan diperkuat, termasuk konsep 4 Terlalu, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak.
Di tingkat lapangan, DP3AKB akan mengoptimalkan peran MOTEKAR dan TELADAN KB untuk memberikan edukasi, menemukan keluarga yang membutuhkan perhatian, mendorong perubahan perilaku, serta menghubungkan keluarga dengan layanan yang dibutuhkan.