NADIKABAR.COM β Dokter spesialis anak subspesialis neurologi RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Prof. Dr. dr. R.A. Setyo Handryastuti, Sp.A, Subsp.Neuro, mengingatkan orang tua untuk mengawasi anak berusia di bawah tujuh tahun secara ketat karena mereka belum sepenuhnya mampu mengenali bahaya di lingkungan sekitar.
βAnak di bawah tujuh tahun itu belum paham betul bahaya, apalagi anak balita. Mana bahaya, mana tidak itu kan belum paham. Jadi harus selalu dalam pengawasan orang tua,β kata dokter dengan panggilan Prof. Andry saat ditemui di RSCM setelah konferensi pers Bayi Kembar Siam, Senin.
Dokter sekaligus Guru Besar Bidang Neurologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan, anak usia balita juga belum sepenuhnya mampu mengungkapkan perasaan, ketakutan, maupun hal yang sedang dipikirkannya. Karena itu, orang tua perlu peka terhadap kondisi anak dan tidak melepaskan pengawasan sepenuhnya.
Menurut Prof. Andry, kebutuhan pengawasan juga perlu disesuaikan dengan lingkungan tempat anak berada. Di rumah, orang tua perlu memastikan lingkungan aman bagi anak, sedangkan di luar rumah mereka harus lebih cermat menilai potensi bahaya.
βKalau di luar rumah kita kan tidak tahu aman atau tidak, kita harus lihat dulu lingkungan ini aman atau tidak. Kalau tidak, ya memang kita harus menjaga, betul-betul harus, tidak boleh lengah,β ujarnya.
Pentingnya pengawasan anak kembali menjadi perhatian setelah muncul kasus anak yang terjatuh dari balkon hotel di Samarinda hingga meninggal dunia serta anak yang ditinggal orang tuanya di tenda saat mendaki Gunung Prau.
Prof. Andry mengatakan orang tua yang membutuhkan waktu untuk beristirahat atau menjalankan aktivitas pribadi dapat mengatur pengasuhan dengan meminta bantuan anggota keluarga yang dipercaya, seperti kakek, nenek, atau kerabat lainnya.
βKetika orang tuanya ingin me time, ingin beristirahat, ya harus ada yang menjaga,β katanya.
Ia menambahkan, orang tua perlu memastikan anak berada dalam pengawasan orang dewasa yang mampu menjaga keselamatannya, terutama ketika anak belum dapat mengenali risiko secara mandiri.