Ia menjelaskan, stimulator kolagen berbahan PLLA bekerja dengan merangsang respons jaringan untuk membentuk kolagen secara bertahap. Karena itu, hasil perawatan tidak muncul seketika, melainkan membutuhkan waktu seiring proses pembentukan kolagen.

Dalam penggunaannya, karakteristik partikel bahan, distribusi di jaringan, dan respons biologis tubuh menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan. Perbedaan formulasi dan teknik aplikasi dapat memengaruhi hasil perawatan serta risiko komplikasi.

Salah satu risiko penggunaan stimulator kolagen adalah terbentuknya nodul atau benjolan di jaringan, termasuk granuloma, yakni kumpulan sel peradangan yang dapat terbentuk sebagai respons terhadap bahan tertentu. Komplikasi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, antara lain karakteristik bahan, teknik penyuntikan, dan respons tubuh.

Karena itu, perlu berkonsultasi dengan dokter yang kompeten sebelum menjalani prosedur. Dokter perlu menjelaskan manfaat yang diharapkan, risiko dan keterbatasan tindakan, alternatif perawatan, serta langkah penanganan jika terjadi komplikasi.