NADIKABAR.COM — Perawatan estetika menggunakan stimulator kolagen mulai menjadi pilihan untuk membantu memperbaiki kualitas kulit secara bertahap, seiring meningkatnya perhatian terhadap hasil yang natural dan pencegahan tanda-tanda penuaan.

Dokter estetika dari BMDERMA Clinic, dr. Latisha Lubianca, M.Biomed (AAM), mengatakan pemilihan produk stimulator kolagen perlu mempertimbangkan formulasi, profil risiko, serta bukti ilmiah yang mendukung keamanan penggunaannya.

“Sebagai praktisi medis, aspek keamanan sebuah produk yang berizin resmi, didukung jurnal dan penelitian ilmiah, selalu menjadi prioritas tertinggi saya sebelum merekomendasikan sebuah perawatan maupun produk kepada pasien,” kata Latisha dalam keterangan tertulis, Selasa.

Stimulator kolagen bekerja dengan merangsang pembentukan kolagen baru melalui proses yang disebut neokolagenesis. Mekanisme tersebut berbeda dengan dermal filler berbahan asam hialuronat (hyaluronic acid) yang terutama digunakan untuk menambah volume pada area tertentu.

Penurunan produksi kolagen seiring bertambahnya usia dapat memengaruhi elastisitas dan kekencangan kulit. Kondisi ini antara lain ditandai dengan munculnya garis halus, kerutan, serta kulit yang mulai kendur.

Salah satu produk dalam kategori tersebut adalah Juliane, stimulator kolagen berbahan poly-L-lactic acid (PLLA) yang dipasarkan sebagai produk asal Swedia. Menurut Latisha, formulasi dan karakteristik partikel produk menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai respons jaringan serta potensi efek samping.

Ia menjelaskan bahwa stimulator kolagen memiliki risiko yang perlu dipahami karena tidak dapat langsung dinetralkan dengan enzim seperti pada filler berbahan asam hialuronat. Oleh karena itu, pemilihan produk dan pelaksanaan prosedur oleh tenaga medis yang kompeten menjadi bagian penting dalam perawatan.

Efek samping yang dapat muncul setelah penyuntikan stimulator kolagen meliputi pembengkakan ringan, memar, dan rasa tidak nyaman. Sementara itu, komplikasi lain, seperti terbentuknya nodul, infeksi, dan kemerahan berkepanjangan, juga perlu diwaspadai.

Latisha mengatakan perawatan tersebut umumnya dipertimbangkan bagi orang yang mulai mengalami tanda-tanda penuaan ringan hingga sedang dan menginginkan perbaikan kualitas kulit secara bertahap, tanpa perubahan bentuk wajah yang berlebihan.

Meski demikian, pemilihan pasien perlu dilakukan secara individual dengan mempertimbangkan kondisi kulit, riwayat kesehatan, serta ekspektasi terhadap hasil perawatan.