Kapal selam kelas Cakra/Alugoro, misalnya, kini jumlahnya akan terus bertambah dengan diproduksinya kapal selam terbaru kelas Scorpène Evolved Full Lithium-Ion Battery (LiB) Prancis di PT PAL Surabaya. Sementara itu, kapal-kapal BCM yang sudah ada antara lain tanker KRI Tarakan, KRI Bontang, dan KRI Balongan. Bahkan, telah tersedia kapal rumah sakit KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991, KRI dr. Soeharso-990, dan KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992.
Dengan profil sea power terbaru TNI AL sebagaimana diuraikan, sesungguhnya TNI AL yang kini berstatus green water navy sedang berupaya melakukan persiapan menjadi blue water navy yang mungkin akan tercapai saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan (Indonesia Emas 2045). Hal itu dimungkinkan karena posisi perekonomian Indonesia diperkirakan sudah menempati peringkat keempat dunia sehingga mampu mendukung biaya operasional dan pengadaan armada kelas samudra biru.
Dalam konteks seperti itulah kehadiran kapal induk Garibaldi seharusnya dimaknai sebagai jalan pembelajaran TNI AL menuju blue water navy dengan segala biaya tinggi yang menyertainya. Keberadaan kapal induk untuk fungsi operasi militer perang maupun operasi militer selain perang menjadi penting sebagai laboratorium lapangan bagi TNI AL dalam menerapkan langkah-langkah operasional berdasarkan doktrin outward-looking yang menjadi doktrin utama blue water navy. Artinya, doktrin yang ada saat ini, inward-looking, sudah saatnya disesuaikan dengan kehadiran unsur kapal induk Garibaldi.
Doktrin outward-looking TNI AL bukan berarti kesiapan suatu armada untuk melakukan tindakan agresif ke teritori negara lain, melainkan harus dimaknai sebagai kemampuan untuk hadir di samudra luas (Hindia dan Pasifik) guna melindungi kepentingan nasional Indonesia.
Kehadiran tersebut bisa dalam bentuk port visit, evakuasi warga negara Indonesia dari wilayah konflik, menjalankan operasi militer selain perang, hingga ikut serta menjaga ketertiban dunia sebagaimana diamanatkan pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Doktrin outward-looking dengan begitu relevan dirumuskan untuk dijadikan sebagai langkah taktis strategis dalam pengoperasian kapal induk untuk operasi militer perang maupun operasi militer selain perang.
Saat ini keberadaan Garibaldi difokuskan untuk melaksanakan operasi militer selain perang dalam fungsi Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR). Ini relevan, mengingat Indonesia berada di wilayah ring of fire yang harus tanggap bila terjadi bencana alam. Tindakan cepat melaksanakan evakuasi dan penyelamatkan, menyalurkan distribusi logistik dan obat-obatan, hingga pelayanan kesehatan dan evakuasi medis menggunakan helikopter adalah salah satu keunggulan kapal induk dalam melaksanakan HADR.