Bahkan, kapal induk itu bisa digunakan membantu upaya pemadaman area hutan dan lahan yang terbakar seperti yang saat ini terjadi di Sumatera dan Kalimantan dengan menerbangkan helikopter yang memiliki kemampuan membawa air dalam jumlah besar dari geladaknya. Tentu saja berbagai fungsi kapal induk Garibaldi tersebut bisa dilakukan setelah kapal selesai menjalani retrofit agar bisa beroperasi di perairan Indonesia yang beriklim tropis.
Pada akhirnya, kemampuan mengawaki dan mengoperasikan kapal induk dalam suatu gugus tugas (untuk operasi militer perang maupun operasi militer selain perang) adalah keuntungan tidak ternilai bagi TNI AL untuk menjadi kekuatan samudra biru pada masanya nanti. Penamaan kapal, KRI Sriwijaya-100, dapat menjadi penanda untuk meraih kembali kejayaan maritim Indonesia sebagaimana pernah terjadi pada masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi.
KRI Sriwijaya dikawal KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi, dengan kapal selam bernama senjata sakti: Cakra, Alugoro, Nagapasa, dan Ardadedali, adalah simbolisasi sea power Indonesia modern. Raja Brawijaya yang tangguh dari Kerajaan Majapahit bersama Raja Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran dengan senjata-senjata sakti Cakra, Alugoro, Nagapasa, dan Ardadedali mengawal KRI Siliwangi sebagai center of gravity.
Selamat datang dan selamat bertugas, KRI Sriwijaya-100. Jalesveva Jayamahe, Justru di Laut Kita Jaya. Bravo zulu TNI AL.
Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio. Guru Besar Universitas Pertahanan dan Mantan Kepala Staf Angkatan Laut.