NADIKABAR.COM — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diramal akan terus berada di sekitar 18.000 hingga akhir tahun. Kondisi ini utamanya dikarenakan penguatan mata uang Paman Sam secara global seiring dengan tren kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed).
Chief Asia Economist & Co-head Global Investment Research Asia HSBC, Frederic Neumann, mengatakan penguatan mata uang Paman Sam tersebut tidak hanya berdampak pada rupiah, namun juga pada berbagai mata uang utama dunia seperti Yen Jepang, Dolar Selandia Baru, hingga Euro.
"Terkait rupiah, kita harus mengakui bahwa The Fed saat ini sedang menaikkan suku bunga, sehingga dolar mendapatkan banyak dukungan. Kita melihat dolar menguat terhadap berbagai mata uang, misalnya mata uang Jepang, Selandia Baru, dan juga Euro," kata Frederic dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026, Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026).
"Mengingat waktu yang tersisa hanya tiga bulan hingga akhir tahun, kita melihat posisi rupiah cenderung stabil, mungkin sedikit melemah, namun tidak signifikan. Hal ini lebih mencerminkan kekuatan dolar daripada kelemahan fundamental rupiah," jelasnya lagi.