Selanjutnya ialah konsolidasi dan merger lintas BUMN, seperti penggabungan 23 perusahaan industrial estate menjadi perusahaan industrial estate terbesar di Asia Tenggara dengan tanah kelolaan 35 ribu hektare (ha), pengintegrasian lima perusahaan management aset, hingga rencana konsolidasi 16 perusahaan asuransi, 60 rumah sakit, serta lebih dari 100 hotel.

Danantara juga melakukan konsolidasi internal seperti penutupan 124 perusahaan PT Pertamina (Persero) dan 50 anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

β€œTotal hasil daripada proses inlining yang kita lakukan dari 1.074 perusahaan nanti akan menjadi hanya kurang lebih 200 perusahaan yang kuat-kuat. Inilah yang kita lakukan dan kita harapkan akhir tahun ini selesai,” kata dia.

Lebih lanjut, dia menilai pembenahan tata kelola (governance) turut perlu dilakukan mengingat terdapat praktik rekayasa keuangan (financial engineering), pembukuan yang tak akurat, hingga penurunan nilai aset (impairment) yang menembus angka Rp100 triliun.

Masalah lain yang ditemukan terkait penyerapan investasi berlebih (overinvestment) tanpa menghitung imbal hasil (return on investment) yang menyebabkan sejumlah BUMN terjebak dalam utang berkepanjangan yang tak mampu dibayar.

Persoalan ini dialami perusahaan seperti PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang memiliki proyek mangkrak dengan beban hutang Rp26 triliun, atau utilitas pabrik PT Kimia Farma Tbk yang hanya beroperasi 40 persen, sehingga beban hutang semakin tinggi.