NADIKABAR.COM — Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank bersama Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI (Kemenkeu) meresmikan 48 Desa Devisa di Provinsi Kepulauan Babel. Langkah ini menjadi bagian dari sinergi Kemenkeu Satu dalam membangun kapasitas ekspor dari tingkat desa.
Hal ini sekaligus mendorong sumber pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih beragam. Adapun seluruh Desa Devisa tersebut memiliki kekuatan pada tiga klaster komoditas unggulan yaitu lada, kerajinan lidi nipah, dan olahan perikanan. Masing-masing memiliki karakter produk dan basis pelaku usaha yang dapat dikembangkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Direktur Pelaksana Keuangan, Operasional, & Teknologi Informasi LPEI Anwar Harsono mengatakan konsistensi menjadi salah satu kunci agar pelaku usaha tidak hanya dapat memasuki, tetapi juga bertahan di pasar global.
"Keunikan produk adalah pintu masuk, tetapi yang membuat pelaku usaha bertahan di pasar ekspor adalah konsistensi. Kapasitas produksi, kualitas dan spesifikasi produk, tata kelola usaha, dan kesiapan finansial harus dibangun bertahap sebelum pelaku usaha berhadapan dengan pembeli luar negeri," ujar Anwar, dalam keterangan tertulis, Selasa (8/9/2026).
"Di situlah pendampingan Desa Devisa berperan," sambungnya.
Klaster lada mencakup 34 desa dengan sekitar 400 petani di Kabupaten Bangka Selatan dan Bangka Tengah. Produk yang dihasilkan berupa lada putih dalam bentuk biji dan bubuk. Lada Bangka telah dikenal di pasar global sebagai Muntok White Pepper, memiliki kandungan piperin tinggi yang memberikan karakter pedas tajam, serta telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis (IG).