"Bisa enggak kita mendesain sambungan tulang panggul yang bisa digunakan untuk salat dan cocok untuk orang Indonesia?" kata Prof Jamari, dikutip dari Undip pada Jumat (4/9/2026).
Kajian mengenai hal ini sebetulnya sudah dimulai sejak 2007 dan terus berkembang dengan beberapa generasi desain. Ketika iterasi desain kelima dengan versi ketiga yang sudah memiliki paten resmi, inovasi tersebut menawarkan rentang gerak yang lebih dinamis, tetapi tetap presisi. Sehingga, pasien kerusakan sendi panggul bisa kembali beraktivitas dengan nyaman.
Kolaborasi tersebut turut melibatkan lintas disiplin dan instansi, seperti rekan manufajtur ATMI Solo dan Unika Atma Jaya Yogyakarta. Perjalanan riset sambungan tulang panggul buatan juga mengantarkan Prof Jamari mendapatkan Science and Technology Award 2025 dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF).