NADIKABAR.COM — Dosen Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Fauzan Lubis dan tim melakukan penelitian terhadap tanaman bosi-bosi yang kemungkinan memiliki khasiat antikanker payudara dari ekstrak tanaman tersebut.

Bosi-bosi (Timonius flavescens), adalah tanaman dari famili Rubiaceae yang tumbuh di perbukitan Tapanuli Utara, dimana daunnya secara turun-temurun direbus untuk diambil airnya, kemudian diminum untuk meredakan nyeri hingga membantu mengatasi penyakit yang dikenal masyarakat sebagai sakit gula atau diabetes mellitus.

"Berdasarkan studi literatur, para peneliti yang mengeksplorasi tanaman ini rata-rata berasal dari Sumatera Utara. Kebetulan saya di fakultas berfokus pada biologi farmasi dan tanaman obat, jadi ada keinginan kuat untuk mengeksplorasi tanaman khas ini. Dari situ kami mencoba mencari tahu apa khasiat lainnya, salah satunya eksplorasi terhadap kanker," kata Fauzan di Medan, Senin.

Penelitian dimulai pada 2023 dan didanai melalui skema Equity Project LPDP yang dikelola Universitas Sumatera Utara, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Melalui riset tersebut, pengetahuan tradisional tentang bosi-bosi dipertemukan dengan teknologi laboratorium untuk mengidentifikasi, mengoptimalkan, dan menguji potensi senyawa yang terkandung di dalamnya. Tahap ini menentukan seberapa optimal senyawa yang diinginkan dapat dipisahkan dari bahan tumbuhan. Metode yang digunakan juga dapat mempengaruhi karakteristik ekstrak dan potensi pemanfaatannya.

Masyarakat umumnya mengenal bosi-bosi melalui cara sederhana: merebus daunnya dengan air. Tim peneliti USU mengambil pendekatan berbeda. Mereka menggunakan metode ekstraksi yang dirancang secara ilmiah dengan mempertimbangkan efektivitas proses sekaligus prinsip ramah lingkungan.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah Natural Deep Eutectic Solvent (Nades), yakni sistem pelarut yang dikembangkan dari kombinasi komponen tertentu. Nades dibuat dengan menggabungkan kolin klorida sebagai penerima ikatan hidrogen (hydrogen bond acceptor) dan D-glukosa sebagai pendonor ikatan hidrogen (hydrogen bond donor), kemudian dilarutkan bersama air.

Pendekatan itu sejalan dengan prinsip green chemistry atau kimia hijau, yang mendorong pengembangan proses kimia dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.