Temuan itu memberikan gambaran awal mengenai potensi biologis ekstrak daun bosi-bosi. Namun, perhatian penelitian tidak berhenti pada aktivitas antioksidan.
Tim juga menguji respons sel kanker payudara terhadap ekstrak tersebut melalui pengujian sitotoksisitas in vitro menggunakan metode MTT assay pada tiga lini sel kanker payudara.
Untuk memahami respons sel secara lebih mendalam, penelitian dilengkapi dengan analisis flow cytometry dan penandaan imunositokimia. Hasil pengujian menunjukkan dua mekanisme utama yang berkaitan dengan penghambatan pertumbuhan dan kematian sel kanker, yaitu penghentian siklus sel serta induksi apoptosis.
Mekanisme pertama berkaitan dengan G0-G1 cell cycle arrest, yakni tertahannya siklus sel pada fase G0-G1. Dalam kondisi normal, sel menjalani tahapan tertentu sebelum membelah. Pada sel kanker, proses ini dapat berlangsung secara tidak terkendali.
Penelitian menemukan adanya penurunan ekspresi protein cyclin D1 (downregulation), protein yang berperan dalam pengaturan siklus dan pembelahan sel. Penurunan ekspresi protein tersebut mengindikasikan adanya potensi penghambatan proses pembelahan sel kanker oleh ekstrak yang diuji.
Mekanisme kedua adalah induksi apoptosis, yaitu proses kematian sel yang berlangsung secara terprogram. Dalam pengujian, ekstrak menunjukkan peningkatan kematian sel melalui fase early apoptosis dan late apoptosis.
Respons ini dimediasi oleh peningkatan ekspresi protein p53 (upregulation), yang dikenal berperan penting dalam pengendalian siklus sel dan respons sel terhadap kerusakan.
βPenurunan ekspresi cyclin D1 menahan laju pembelahan sel tumor, sementara peningkatan p53 memicu sel kanker untuk mati secara terprogram. Kombinasi inilah yang membuat ekstrak daun bosi-bosi sangat berpotensi dikembangkan sebagai terapi pendamping antikanker," katanya.