Pada pemuda itu, kata dia, tidak menunggu keadaan menjadi mudah untuk bersatu. Mereka bersatu justru karena menyadari bahwa masa depan tidak mungkin diperjuangkan sendiri-sendiri.

"Itulah keberanian politik generasi 1928: menempatkan cita-cita bangsa di atas batas kelompok. Dan keberanian semacam itu kembali dituntut dari kita hari ini," kata dia.

Selain itu, dia mengatakan bahwa pemuda di tahun 1928 itu tidak mengetahui berapa panjang jalan menuju kemerdekaan, tetapi mereka tahu arah yang harus dituju.

Menurut dia, bangsa pada saat ini pun tidak dapat mengendalikan seluruh guncangan dunia. Namun yang dapat ditentukan adalah watak Indonesia saat menghadapinya, yakni berani tanpa gegabah, terbuka tanpa tunduk, bersatu tanpa kehilangan nalar kritis.