NADIKABAR.COM — Anggota Komisi V DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB) Nadirah Al Hasby mengusulkan seluruh ustadz dan pimpinan di pondok pesantren (ponpes) maupun satuan pendidikan di wilayah itu diperiksa kondisi kejiwaannya setiap 3 hingga 6 bulan sekali."Di ponpes itu memang harus diperiksa kejiwaan ustadz-ustadznya. Kalau gurunya tidak memungkinkan secara psikologi mengajar, tidak perlu diberikan jam mengajar," ujarnya pada wartawan setelah rapat paripurna DPRD NTB di Mataram, Selasa.Ia mengaku prihatin karena kasus tersebut sangat memalukan dan mencoreng citra ponpes yang seharusnya memberikan dan menyampaikan ilmu, keimanan serta ketakwaan pada para santri dan santriwati.
Ketua FPTI NTB ini menekankan pentingnya pendampingan terhadap korban. Korban harus mendapatkan trauma healing, cek kesehatan, dan dikawal agar tidak mengalami trauma berkepanjangan."Kepada korban perlu ada pendampingan trauma healing, cek kesehatan dan dikawal jangan sampai trauma. Jangan biarkan dia sendiri," ujarnya.Nadirah juga mengingatkan pentingnya ketahanan keluarga. Pihak keluarga harus mawas diri dan membentengi anak agar terhindar dari kejadian serupa."Kalau tidak terungkap, kemungkinan banyak korban karena dianggap aib. Jadi ini peringatan juga, selain ponpes, juga lembaga pendidikan lain, sehingga perlu ada perhatian khusus dari pemerintah terkait kejadian ini," ucap Nadirah.Terkait penanganan secara hukum terhadap pelaku, Nadirah memastikan kasus tersebut sudah ditangani Aparat Penegak Hukum (APH). Ia meminta pelaku juga segera diproses hukum dan diberikan hukuman seberat-beratnya agar menimbulkan efek jera."Kita minta pelaku segera diproses dan diberikan hukuman, sehingga ada efek jera," katanya.Sebelumnya, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram Joko Jumadi mengungkapkan jumlah terduga korban kian bertambah sejak kasus ini mencuat ke publik.