Konferensi tersebut membahas delapan jalur utama, termasuk pertanian berkelanjutan, kecerdasan buatan geospasial (Geospatial Artificial Intelligence/GeoAI), sensor satelit dan drone, Global Navigation Satellite System (GNSS), mitigasi bencana, serta pemanfaatan data untuk mendukung kebijakan publik.

Acara itu diselenggarakan bersama Asian Association on Remote Sensing, Indian Society of Remote Sensing, dan Indian Society of Geomatics, yang turut didukung oleh sejumlah lembaga seperti ISRO dan NRSC dari India, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) dari Jepang, Kementerian Kebumian India dan berbagai lembaga lainnya.

Penginderaan jauh kini berkembang jauh melampaui fungsi pemotretan permukaan Bumi melalui satelit, dan menjadi alat penting untuk memantau kondisi hutan, lahan pertanian, banjir, kekeringan, gempa bumi, perubahan garis pantai, serta berbagai dinamika lingkungan lainnya.

Bagi Indonesia yang memiliki lebih dari 17.500 pulau, penginderaan jauh dibutuhkan untuk pengelolaan sumber daya alam, perlindungan hutan, pengawasan pesisir, perikanan, pertanian, hingga penanganan bencana.