Rulyantina, yang dikenal dengan sebutan βUnni Talas Benengβ, merupakan inovator pangan asal Pandeglang, Banten.
Ia mengembangkan talas beneng, komoditas umbi lokal khas Banten, menjadi beragam produk bernilai tambah melalui pendekatan zero waste atau minim limbah.
Dalam pengembangan talas beneng, Rulyantina juga mendapatkan pendampingan dari Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Banten sebagai bagian dari dukungan Kementerian Pertanian terhadap pengembangan potensi komoditas lokal.
Inovasi tersebut mendorong diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat perdesaan, khususnya perempuan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Melalui pengolahan bahan baku secara optimal, Rulyantina memperlihatkan potensi komoditas lokal untuk menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Pengembangan talas beneng juga memperkuat pemanfaatan sumber pangan alternatif sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Sinergi antara inovasi pelaku usaha dan pendampingan pertanian diharapkan dapat mendorong pengembangan komoditas khas daerah menjadi produk bernilai tambah, memperkuat ekonomi perdesaan, serta memperkaya pilihan pangan Indonesia.
Sedangkan, Istiqamah dari Aceh berkontribusi dalam pengembangan usaha perkebunan kopi melalui perannya sebagai sekretaris koperasi yang mewakili 980 anggota dengan pengelolaan lahan perkebunan kopi seluas lebih dari 1.200 hektare.