NADIKABAR.COM — Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai Indonesia memiliki arah yang jelas menuju energi bersih selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka.

“Rapornya cukup baik, arah yang jelas menuju energi bersih,” ujar Yayan ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Kamis.

Yayan memaparkan, Indonesia yang bergerak menuju energi bersih terlihat dari target pemerintah dalam membangun 100 gigawatt peak (GWp) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Selain itu, Yayan juga melihat pemerintah berencana untuk mengurangi bahan bakar fosil secara bertahap.

“Target ini menempatkan Indonesia di antara program surya terbesar dunia,” ucap Yayan.

Meskipun demikian, Yayan juga menyampaikan saat ini batu bara masih mendominasi kelistrikan Indonesia. Ia menyoroti batu bara yang memasok sekitar 80 dari 120 GW kapasitas listrik nasional.

Emisi dari sektor listrik, lanjut dia, masih di atas 350 juta ton setara karbon dioksida per tahun.

Lebih lanjut, Yayan juga menyampaikan pemerintah perlu mempersiapkan jaringan dan penyimpanan listrik untuk PLTS.

Yayan mengingatkan bahwa listrik tenaga surya bersifat naik-turun mengikuti kondisi cuaca. Tanpa jaringan yang kuat dan baterai penyimpanan yang memadai, Yayan menyampaikan tambahan tenaga surya sulit diserap oleh sistem.

“Inilah hambatan yang paling mengikat, bukan dana atau besarnya target,” kata Yayan.

Oleh karena itu, Yayan merekomendasikan penguatan jaringan transmisi dan sistem baterai sebelum memasang tenaga surya dalam jumlah besar.

“Tanpa ini, target 100 GWp sulit dicapai. Kemudian, manfaatkan permintaan 100 GWp untuk membangun pabrik panel surya dan baterai di dalam negeri, sekaligus melatih tenaga kerja. Inilah jembatan dari energi bersih menuju ekonomi yang naik kelas,” ucap Yayan.