Ia menegaskan bahwa proyek pembangunan bandara senilai miliaran dolar dan kapasitas 250 juta penumpang per tahun, tidak akan dikurangi skalanya akibat perang tersebut.
"Percakapan paling singkat yang pernah saya lakukan dengan ketua dewan direksi, Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum, adalah mengenai apakah hal ini mengubah strategi jangka panjang kami. Jawabannya adalah tidak," katanya.
Tangki bahan bakar di bandara utama Dubai sebelumnya berada di permukaan tanah dan sempat terkena serangan pada puncak perang tim redaksi Iran melawan AS dan Israel, sehingga memaksa bandara menghentikan operasionalnya. Namun, Griffiths menyatakan bahwa penerbangan dapat dilanjutkan kembali dalam waktu satu jam setelah insiden tersebut dan menegaskan bahwa operasional tetap aman sepanjang waktu.
Bandara Dubai, yang dibuka pada tahun 1960, sempat menjadi bandara internasional tersibuk dunia, namun kini mulai terlempar dari daftar lima besar seiring dengan konflik tim redaksi Iran, AS, dan Israel.
Jumlah penumpang di Dubai turun sepertiganya pada paruh pertama tahun ini, namun Griffiths mengatakan angka tersebut kini mulai pulih. Optimis, ia memperkirakan bandara ini akan kembali merebut gelar sebagai bandara internasional terbesar di dunia pada tahun depan.