NADIKABAR.COM — Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergey Tolchenov menegaskan bahwa Rusia mendukung solusi dan perundingan damai, meski mengakui bahwa upaya tersebut semakin sulit dilakukan ketika konflik Rusia-Ukraina semakin memanas.
“Kami mendukung solusi damai serta perundingan damai. Namun, bukan berarti kami, seperti negara-negara Barat, mengusulkan penghentian segala aktivitas saat ini … lalu baru kemudian membahas sesuatu. Bukan seperti itu caranya,” kata Tolchenov di Jakarta, Senin.
Dubes Rusia itu mengklaim bahwa pihak Barat dan Ukraina hanya menginginkan masa jeda untuk memperkuat militer Ukraina, kemudian melanjutkan perang setelah masa jeda tersebut.
Dia menegaskan bahwa perdamaian harus bersifat langgeng dan didasarkan pada kesepakatan damai yang komprehensif. Menurut dia, Ukraina juga perlu mempertimbangkan tujuan dan kepentingan Rusia.
“Tidak boleh ada pangkalan NATO, tidak boleh ada keanggotaan NATO bagi Ukraina. Harus ada denazifikasi dan demiliterisasi Ukraina, serta penghormatan terhadap hak-hak bukan hanya warga Ukraina, tetapi juga kelompok minoritas nasional, termasuk penduduk berbahasa Rusia dan gereja Rusia,” jelas Tolchenov.
Dia melanjutkan bahwa tidak ada pihak yang menginginkan keberadaan NATO di dekat perbatasan Rusia dan menyatakan bahwa Rusia akan melanjutkan “operasi militer khusus” hingga tujuannya tercapai.
“Itulah sebabnya, sebagaimana berulang kali kami tegaskan, kami akan melanjutkan operasi militer khusus ini sampai tujuan kami tercapai,” kata Tolchenov.
Menurut laporan Anadolu, Senin, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa pasukan Ukraina berupaya melancarkan serangan massal ke wilayah Rusia menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal jelajah Flamingo dengan tujuan “mengganggu pemilihan umum Duma”.
Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin mengatakan Rusia berhasil mematahkan serangan drone terbesar yang pernah menyasar ibu kota tersebut, dengan lebih dari 1.600 drone berhasil dicegat, termasuk sekitar 450 drone yang bergerak mendekati Moskow.
Ini merupakan pemilihan umum parlemen pertama Rusia sejak perang di Ukraina pecah pada Februari 2022. Pemungutan suara juga diselenggarakan di wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia, sebuah langkah yang ditolak oleh Kyiv dan banyak pemerintah Barat karena dianggap tidak sah.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia melancarkan serangan di 10 wilayah Ukraina sepanjang malam dan menewaskan satu orang serta melukai delapan lainnya, lapor Anadolu, Senin.
Dia mengatakan serangan “keji dan disengaja” oleh Moskow terhadap Zaporizhzhia tadi malam itu melukai lima orang serta merusak gedung hunian berlantai sembilan, fasilitas universitas, pusat perbelanjaan, dan instalasi ketel uap, sehingga memaksa sebagian warga mengungsi.
“Rusia tidak mundur dari eskalasi yang dilakukannya dan terus menunjukkan berbagai tanda bahwa mereka siap memperluas cakupan perang. Semua ini terjadi di tengah kondisi stabilitas dunia yang telah hancur akibat perang ini,” katanya.