NADIKABAR.COM — Pemerintah Jepang melayangkan protes kepada Amerika Serikat (AS) pada Minggu (4/10) terkait kasus pembunuhan yang diduga melibatkan seorang anggota Marinir AS yang ditempatkan di Okinawa, prefektur paling selatan Jepang.

Sementara itu, warga Okinawa mengungkapkan kemarahan mereka, dengan menyatakan bahwa keberadaan pangkalan militer AS dan kelambanan pemerintah Jepang telah memungkinkan kejahatan serupa terus terjadi. Kepolisian Prefektur Okinawa pada Minggu menangkap seorang anggota Marinir AS atas dugaan perampokan dan pembunuhan terhadap seorang wanita setempat pada Sabtu (3/10) dini hari waktu setempat di sebuah hotel di Kota Naha. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan dalam sebuah unggahan di X pada Minggu bahwa "sangat disayangkan" telah terjadi kejahatan yang begitu kejam dan biadab. Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi dan Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi masing-masing memanggil Duta Besar AS untuk Jepang George Glass dan Komandan Pasukan AS di Jepang (USFJ) Stephen Jost untuk menyampaikan protes keras, serta mendesak militer AS agar memperketat disiplin dan mengambil langkah-langkah menyeluruh guna mencegah terulangnya kasus serupa. Warga Okinawa mengungkapkan kemarahan mereka atas kasus ini pada Minggu, sebagaimana dilaporkan oleh Kyodo News. Shusei Arakawa, seorang warga setempat, mengatakan bahwa keberadaan pangkalan AS di Okinawa telah memicu berbagai insiden dan kecelakaan, serta banyak warga setempat yang kehilangan nyawa sejak militer AS ditempatkan di sana. "Ini bukan masalah Okinawa. Ini masalah pemerintah Jepang," ujar warga lainnya, seorang pria berusia 50-an tahun. "Kasus-kasus seperti ini terus terjadi, tetapi pemerintah gagal mengambil langkah untuk mengatasinya." Di Kota Uruma, Okinawa, warga menggelar aksi protes dengan membawa papan bertuliskan slogan seperti "Jadikan Okinawa tempat di mana orang bisa hidup dengan damai", menurut laporan tersebut.

Salah satu pengunjuk rasa mengungkapkan kekhawatirannya dengan berkata, "Hal ini bisa saja menimpa anak-anak saya atau diri saya sendiri. Anda tidak pernah tahu." Pada hari yang sama, polisi Prefektur Okinawa menangkap dua anggota militer AS atas dugaan mengemudi dalam keadaan mabuk. Tindak kejahatan yang melibatkan personel militer AS yang ditempatkan di Jepang, termasuk tindak kejahatan berat seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan perampokan, telah lama menjadi sumber kekhawatiran yang mendalam di kalangan masyarakat. Statistik resmi menunjukkan bahwa pada 2025 saja, Kepolisian Prefektur Okinawa menangani lebih dari 100 kasus pidana yang melibatkan anggota militer AS dan personel terkait.