NADIKABAR.COM — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengatakan apresiasi tersebut menjadi penguat bagi upaya pencegahan korupsi yang dilakukan sejak lingkungan pendidikan.
"Pencegahan dini pada anak-anak kita ini sangat penting sekali, ini sebagai upaya membangun integritas secara nasional," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10/2026).
Hal tersebut disampaikannya pada saat menerima penghargaan dalam acara peluncuran Indeks Integritas Pendidikan Tahun 2026 di Gedung Juang KPK, hari ini.
Dalam pelaksanaan program SBI, penguatan integritas menyasar empat unsur utama, yakni kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan non-guru, serta murid.
Adapun kepala sekolah diarahkan memperkuat transparansi dan akuntabilitas tata kelola, sedangkan guru mengintegrasikan pendidikan antikorupsi dalam pembelajaran dan keteladanan.
"Anak-anak sekolah dididik untuk tidak menyontek, dididik untuk bertindak jujur, kemudian dididik kegiatan OSIS yang apa adanya, tidak curang dan lain sebagainya. Kemudian guru juga harus mendidik terkait dengan integritas," jelasnya.
Luthfi mengungkapkan praktik integritas juga didorong hadir dalam aktivitas sehari-hari di sekolah. Contohnya pemilihan OSIS secara jujur, tes atau ulangan melalui sistem digital, kanal pengaduan digital, hingga Laboratorium SBI.
"Jangan sampai masuk sekolah bayar, kemudian ada pungli dan lain sebagainya. Jadi pendidikan dini ini digunakan untuk upaya pencegahan, bahwa integritas dalam pencegahan tindak pidana korupsi disiapkan dari anak-anak kita," tegasnya.
Program SBI di Jawa Tengah dimulai pada 2023 dengan melibatkan 104 sekolah. Pada 2025, implementasinya diperluas menjadi 645 sekolah. Tahun ini, penguatan program dilanjutkan melalui pembentukan 12 Laboratorium SBI di lingkungan Cabang Dinas Pendidikan.
Sementara itu, Ketua KPK Setyo Budiyanto mengatakan program Sekolah Berintegritas milik Jawa Tengah sebagai salah satu praktik baik yang diharapkan dapat menyebar ke wilayah lain.
"Dengan menampilkan nama Sekolah Berintegritas saja, setidaknya auranya itu sudah menyebar ke semuanya. Harapannya ini menyebar ke semuanya," ucap Setyo.
Ia menekankan pemberantasan korupsi tidak cukup mengandalkan penegakan hukum. Adapun pencegahan perlu dibangun melalui pendidikan dan pembentukan karakter sejak dini.
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan orang-orang pintar. Kejujuran, komitmen, konsistensi, dan integritas harus menjadi bagian dari karakter peserta didik.
"Secerdas apa pun teknologi, tidak akan bisa menggantikan integritas," tutupnya. (prf/ega)