NADIKABAR.COM β Psikolog klinis anak dan remaja Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog mengatakan bahwa kesehatan mental sangat erat kaitannya dengan lingkungan sosial tempat individu berada, seperti dukungan keluarga dan orang-orang terdekat memiliki peran penting.
βSocial support berupa dukungan emosional, informasi, dan bantuan praktis yang diterima seseorang dari lingkungannya sangat berperan penting,β ujar Ocha kepada NadiKabar di Jakarta, Sabtu.
Ocha mengatakan berdasarkan tanda 4D (Deviance, Dysfunction, Distress, dan Danger) bisa menjadi tanda seseorang sedang mengalami masalah kesehatan mental.
Tanda deviance atau penyimpangan dari pola yang lazim, yakni terdapat perubahan atau pola pikiran, emosi, maupun perilaku yang berbeda secara signifikan dari kebiasaan atau konteks sosialnya.
Pada dysfunction atau gangguan fungsi, dalam hal ini kondisi psikologis mulai mengganggu kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, belajar, pola tidur, merawat diri, mempertahankan relasi, atau memenuhi tanggung jawabnya.
Tanda distress atau tekanan psikologis, berupa seseorang mengalami penderitaan emosional yang bermakna, seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan yang intens, perasaan hampa, rasa bersalah berlebihan, atau merasa kewalahan menghadapi kehidupan sehari-hari.
Serta tanda danger atau bahaya, terdapat indikasi risiko terhadap keselamatan diri sendiri atau orang lain, misalnya munculnya keinginan bunuh diri, perilaku menyakiti diri, atau perilaku lain yang membahayakan keselamatan.
βTanda-tanda ini perlu ditanggapi secara serius dan tidak boleh diabaikan,β ujar psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) itu.
Ocha juga mengatakan bentuk dukungan yang bisa dilakukan ketika orang terdekat mengalami masalah kesehatan mental dengan melakukan pendekatan membangun rasa aman secara bertahap, seperti menanyakan kabar dan kondisi mereka secara berkala.
Kemudian, lanjut Ocha, pertahankan interaksi sehari-hari yang wajar, perhatikan kebutuhan dan kemampuan orang tersebut, kemudian tawarkan bantuan yang konkret, berikan apresiasi terhadap usaha kecil yang individu tersebut lakukan.
βSesuaikan dukungan dengan konteks sosialnya. Misalnya, pada anak atau remaja, misalnya, dukungan dapat melibatkan orang tua, guru, konselor sekolah. Menawarkan atau merekomendasikan bantuan profesional,β kata Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.