Menjaga motivasi dan kesehatan mental menjadi dua aspek penting yang mereka pegang teguh selama menyelesaikan S3. Tak lupa dukungan keluarga, teman, dan sikap positif menjadi tambahan semangat untuk tetap bertahan dan menyelesaikan perjalanan akademik.
Jalani kuliah di tempat dan waktu yang sama, Durinda dan Durinta menjadikan hubungan persaudaraan mereka sebagai ruang diskusi yang produktif. Di tengah proses pengerjaan disertasi, masing-masing kerap bertukar gagasan, memberikan masukan, dan menjadi penyemangat ketika tantangan penelitian datang.
"Kami merasa memiliki teman sekaligus saudara yang dapat saling berbagi dan berdiskusi terkait perkuliahan maupun disertasi yang sedang dikerjakan. Meskipun tema penelitian berbeda, kami bisa saling memberikan masukan dan dukungan," jelas keduanya dikutip dari laman resmi UM, Selasa (15/9/2026).
Satu hal perbedaan yang terjadi di proses S3 Durinta dan Durinda adalah tema disertasi masing-masing. Durinta mengkaji intensi berwirausaha pada mahasiswa pada disertasinya.
Literasi digital disebut sebagai variabel mediasi baru yang bisa memperkaya pemahaman terkait proses terbentuknya intensi berwirausaha mahasiswa. Dalam disertasinya ini, Durinta merekomendasikan agar pendidikan kewirausahaan tidak hanya diajarkan melalui mata kuliah.
Lebih lanjut, pendidikan kewirausahaan menurutnya bisa diperkuat melalui project-based learning, inkubasi bisnis mahasiswa, serta pemanfaatan platform digital sebagai media praktik kewirausahaan.