Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan (EBT) yang sangat besar, mencapai sekitar 3.600 GW, dengan potensi energi surya sebesar 3.300 GW.
"Karena itu, arah transisi energi Indonesia harus bertumpu pada tiga prinsip utama, yaitu tangguh, rendah emisi, dan berkeadilan," tuturnya.
Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum PAN ini mengapresiasi arah kebijakan pemerintah dalam mempercepat pengembangan energi terbarukan, termasuk melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Dalam rencana tersebut, terdapat tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, dengan 42,6 GW atau sekitar 61 persen di antaranya berasal dari energi baru dan terbarukan.
Eddy secara khusus mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto yang sejak awal pemerintahannya secara konsisten mendorong percepatan transisi energi dan pengembangan energi terbarukan. Menurutnya, komitmen tersebut tercermin melalui berbagai agenda strategis pemerintah, termasuk Program PLTS 100 GW yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
"Saya mengapresiasi konsistensi Presiden Prabowo yang sejak awal pemerintahannya telah memberikan perhatian besar terhadap percepatan transisi energi. Program PLTS 100 GW menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap pengembangan energi terbarukan sekaligus menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi Indonesia," ungkapnya.