NADIKABAR.COM — Les privat di Indonesia terus tumbuh, tetapi cara industrinya bekerja nyaris tidak berubah selama puluhan tahun. Polanya orang tua mencari tutor lewat kenalan, atau dari lembaga les privat konvensional, berharap cocok, lalu memulai semuanya dari nol setiap kali tutor berhalangan.

Head of Education Edupoint Adhel Pradita mengatakan ada tiga masalah struktural yang terus berulang. Adapun tiga masalah itu yakni tutor yang berhenti di tengah jalan memutus kesinambungan belajar anak, keluarga di luar kota besar kesulitan menemukan pengajar yang sesuai, dan les berjalan tanpa arah karena tujuan belajarnya tidak pernah dirumuskan.

Edupoint Indonesia (edupoint.id), layanan les privat Edupoint yang beroperasi sejak 2016, membangun jawaban atas ketiganya sebagai satu sistem utuh dan kini melangkah lebih jauh dengan menjadikan laporan perkembangan belajar bulanan sebagai standar layanan untuk seluruh siswanya.

Perjalanan setiap siswa di Edupoint dimulai dari pemetaan kebutuhan. Dari mata pelajaran, jenjang, karakter anak, dan target yang ingin dicapai dirumuskan menjadi tujuan belajar yang terukur.

Dari situ sistem menyusun rencana belajar personal, dan mesin pencocokan berbasis AI menyaring kandidat dari jaringan lebih dari 20.000 tutor terverifikasi di 60+ kota untuk menemukan pengajar yang paling sesuai. Baik dekat secara lokasi, cocok secara akademik, dan pas dengan gaya belajar anak. Setiap sesi kemudian tercatat: kehadiran, materi yang ditempuh, dan catatan pengajar terkumpul menjadi laporan bulanan yang diterima orang tua.

"Setiap anak di Edupoint punya tujuan belajar yang disepakati sejak awal, dan setiap bulan orang tua menerima laporan yang bisa dibaca lima menit: apa yang sudah dikuasai, apa yang perlu diperkuat, dan langkah berikutnya. Les berhenti menjadi kotak hitam berubah menjadi parameter kemajuan anak yang terlihat, terukur, dan bisa ditindaklanjuti," ujar Adhel Pradita dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).