Di sisi lain, tekanan harga pangan turut menjadi perhatian. Inflasi kelompok harga bergejolak pada Oktober mencapai 5,81 persen secara tahunan, terutama dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas cabai dan tomat.

Danamon mencatat kelompok harga bergejolak menyumbang 0,13 poin persentase terhadap inflasi bulanan Oktober, sementara kenaikan tarif angkutan udara turut memberikan tekanan harga.

Dari sisi perdagangan, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 masih surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS atau sekitar Rp61,02 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan Agustus sebesar 3,55 miliar dolar AS atau sekitar Rp64,47 triliun.

Surplus September ditopang peningkatan ekspor produk terkait minyak sawit dan mesin listrik, serta penurunan impor minyak dan gas (migas) sebesar 7,4 persen secara bulanan.

Kondisi tersebut membuat defisit perdagangan migas menyempit menjadi 2,32 miliar dolar AS atau sekitar Rp42,13 triliun dibandingkan 2,54 miliar dolar AS atau sekitar Rp46,13 triliun pada Agustus.

Namun, Irman memperkirakan peningkatan kebutuhan impor minyak dan bahan produksi berpotensi mempersempit surplus perdagangan menjelang akhir tahun.

Menurut dia, kebutuhan impor bahan baku dan barang modal diperkirakan tetap tinggi seiring aktivitas industri dalam negeri, sehingga sebagian penerimaan ekspor akan terserap untuk membiayai kebutuhan produksi.

“Kami memperkirakan surplus perdagangan akan menyusut cukup besar menjelang akhir tahun karena penurunan impor energi pada September bersifat sementara,” ujar dia.