Hal tersebut sejalan dengan penguatan aktivitas manufaktur Indonesia. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur versi S&P Global meningkat menjadi 54,0 pada Oktober dari 52,4 pada September.

Sementara itu, surplus perdagangan secara kumulatif sepanjang Januari–September 2026 mencapai 10,61 miliar dolar AS atau sekitar Rp192,69 triliun, lebih rendah dibandingkan 33,54 miliar dolar AS atau sekitar Rp609,12 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Irman menilai kondisi tersebut memperkuat pentingnya menjaga stabilitas eksternal melalui pengelolaan likuiditas dan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Ia juga memandang penyesuaian suku bunga dapat diperlukan guna mempertahankan daya tarik aset berdenominasi rupiah dan membatasi risiko pelemahan nilai tukar terhadap inflasi.

β€œKami mempertahankan proyeksi BI-Rate pada akhir 2026 sebesar 6,25 persen, dengan stabilitas eksternal tetap menjadi pertimbangan utama,” tutur Irman.

Sementara itu, Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026 mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen guna menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pencapaian sasaran inflasi.

Bank Indonesia juga menyatakan inflasi Oktober masih berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen, didukung sinergi pengendalian inflasi bersama pemerintah pusat dan daerah.

Melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), Bank Indonesia bersama pemerintah terus memperkuat upaya menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan, termasuk mengantisipasi dampak gangguan cuaca terhadap produksi.