"Yield yang terlalu rendah tetapi tidak menarik investor bukan yield yang murah. Pada akhirnya biaya penyesuaiannya bisa muncul di rupiah, di foreign flow, atau di pasar saham. Karena itu saya melihat ujian pertama koordinasi fiskal-moneter ini sangat sederhana tetapi penting, apakah pemerintah dan BI siap membiarkan pasar menemukan harga yang benar," jelas dia.

Fakhrul menambahkan jika proses tersebut gagal terjadi secara alami, maka pasar dapat mulai mempertanyakan efektivitas koordinasi yang baru saja diperjelas.

"Kalau koordinasi hanya terlihat kuat di atas kertas tetapi harga pasar tetap tidak diberi ruang untuk menyesuaikan, pasar akan mulai bertanya, sebenarnya fungsi koordinasinya apa? Karena itu, market-clearing yield menurut saya akan menjadi ujian kredibilitas pertama dari arsitektur koordinasi yang baru ini," kata Fakhrul.

Sebelumnya pada Kamis (24/9/2026), BI dan Kemenkeu menyepakati lima pilar sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pertama, sinergi dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui optimalisasi instrumen kebijakan fiskal dan moneter.

Kedua, sinergi dalam memperkuat ketahanan sektor eksternal di tengah gejolak global, baik dari sisi perdagangan internasional maupun aliran modal asing.

Ketiga, sinergi dalam mengelola kecukupan likuiditas di pasar uang, perbankan dan perekonomian.

Keempat, koordinasi kebijakan dalam pengendalian inflasi yang dilakukan melalui tim pengendalian inflasi pusat/daerah (TPIP/TPID) dalam implementasi gerakan pengendalian inflasi dan pangan sejahtera (GPIPS).

Dan, kelima, koordinasi dalam upaya pendalaman pasar keuangan untuk mendukung transmisi kebijakan dan memperluas sumber pembiayaan ekonomi.