Sementara itu, risiko valuta asing dapat dikelola melalui instrumen hedging.

β€œIni menurut saya kombinasi yang lebih sehat: biarkan yield obligasi memberikan harga terhadap duration risk, sementara instrumen swap memberikan harga terhadap currency risk. Jangan seluruh shock dunia dimasukkan ke BI Rate," tutuenya.

Dengan inflasi Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan (yoy), Fakhrul menilai ruang untuk menerapkan pendekatan tersebut masih tersedia, meskipun tekanan harga minyak dan rupiah tetap perlu diperhatikan.

Peningkatan insentif hedging bukan pengganti fundamental ekonomi dan tidak semestinya menjadi fasilitas permanen.

β€œTemporary FX incentive bekerja kalau modal sebenarnya sedang menunggu. Kalau yield sudah menarik, biaya hedging sudah turun, tetapi investor tetap tidak masuk, berarti persoalannya bukan lagi price of waiting. Kita harus melihat kembali fundamental dan struktur neraca pembayaran," jelasnya.

Karena itu, lanjut Fakhrul, perkembangan arus modal dalam beberapa pekan mendatang akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat efektivitas kebijakan tersebut.