Terbatasnya kemampuan industri untuk menghasilkan barang yang diperdagangkan ke luar negeri kemudian berdampak pada kinerja perdagangan dan transaksi berjalan (current account), yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap rupiah.
βKita tradable sectors-nya terbatas. Kita enggak bisa jual lebih banyak barang keluar. Yang bisa kita jual cuma komoditas. Nah, ini jadi masalah,β ujar Fithra.
Di sisi lain, ketergantungan industri terhadap bahan dan komponen dari luar negeri juga membuat pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi.
βKetika dia membutuhkan input dari luar, harganya jadi semakin mahal. Jadi, ini jadi kayak vicious circle. Jadi kayak satanic loop,β tambahnya.