βBedanya adalah, yang harus kita akui, ada yang konsumsinya masih banyak, ada yang konsumsinya itu kurang, ada yang konsumsinya itu masih foya-foya, ada yang sudah makan tabungan, ada yang sudah makan utang, tapi mereka semuanya itu masih konsumsi,β kata Piter.
Dalam konteks tersebut, Piter menilai komunikasi mengenai kondisi perekonomian perlu disampaikan dengan data yang lebih jernih, agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai perkembangan ekonomi nasional.
Menurutnya, indikator pertumbuhan ekonomi perlu dibaca bersama kondisi konsumsi dan aktivitas ekonomi yang berlangsung di tengah masyarakat.
Ia pun menilai perbedaan proyeksi di kalangan ekonom lebih banyak berkaitan dengan besaran angka pertumbuhan, bukan mengenai apakah perekonomian Indonesia masih tumbuh positif atau tidak.
βSebenarnya para ekonom sepakat kalau kita tumbuh positif, cuma bedanya adalah angkanya berapa, ada yang mengatakan di bawah 5 persen, ada yang mengatakan di atas 5 persen, tapi ada di kisaran 5 persen,β kata Piter pula.